Friday, January 9, 2015

Bersyukur Tanpa Batas

Hei, kita bertemu lagi. Judul ini sudah berdebu di draft blogku. Terhitung sejak pertemuanku dengan salah satu teman karibku. Sore itu kami menghabiskan waktu bersama. Aku bilang padanya ada sesuatu yang ingin aku utarakan. Maksud hati ingin sedikit melepas beban. Ya, anggap saja seperti aku membawa tomat setiap hari. Yang jika terus disimpan akan membusuk. Bau. Dan membuatku tidak nyaman. Dan saat itulah aku membuang tomat-tomat itu agar tak begitu menggangguku.

Entah bagaimana persisnya. Bulir dari mata ini meluncur begitu saja. Saat aku membicarakan topik yang satu ini. Hal tersensitif yang selalu sukses membuatku tersedu. Membuatku memutar kembali kilasan kenangan. Ah, kenangan terdengar indah. Diapun sama. Mengutarakan hal sensitif ini. Dalam satu garis aku simpulkan. Bahwa setiap orang punya masalah. Kadang aku melihat beban orang tersebut tak ada apa-apanya dibanding aku, namun lebih bijak saat bersyukur bahwa mungkin jika kondisi berbalik aku tak bisa berlaku setegar itu. Kembali kuulang bersyukur. Semua kuncinya ada di situ. Syukur.



Banyak yang bilang bahwa sabar ada batasnya. Mereka bisa saja marah kalau hal yang memicu amarah mereka sudah kelewatan. Melampaui batas. Lalu di sini pertanyaannya, batas itu diciptakan siapa? Oleh diri kita sendiri. Aku masih ingat ada seseorang yang berkata padaku. Bahwa kesabaran tak memiliki batas. Semua itu hanya buatan diri sendiri. Mengelak mencari alasan untuk berhak marah. Untuk berhak berontak. Kalau mawas diri. Kupastikan sabar itu selalu ada. Dan tak berbatas.

Sama halnya dengan syukur. Bersyukur bukan saat kita merasa bahagia. Tapi kita bahagia karena kita bersyukur. Punya gadget baru, ujian lancar, bisa nonton film, bisa beraktivitas normal, bisa tampil keren, penuh percaya diri, sanggup berjalan, menghirup udara, masih diberi kehidupan, dan masih banyak lagi. Hal-hal sepele yang harusnya kita syukuri. Yang kadang dibutakan oleh satu hal saja, mengambil banyak porsi diotak untuk terus memikirkannya. Aku harus memilikinya, harus begitu keadaannya. Jika itu tak sejalan keinginan. Maka, boom! Semua yang harusnya disyukuri, malah dihardik. Dihakimi. Seolah-olah dunia tidak adil.

Ya, dunia memang tidak adil. Jika melihatnya dari sudut pandang keegoisan. Tak akan pernah bertemu dengan kata adil jika sikap kekanak-kanakan. Jika tak mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan. Belajar melihat suatu masalah dari sudut pandang kebijaksanaan. Di sana akan ditemukan sebuah hikmah dalam masalah. Semua terjadi dengan tujuan. Kenaikan derajat. Begitulah selama ini kita menuntut ilmu secara formal. Ujian untuk naik kelas. Begitu juga dengan hidup. Cobaan untuk hidup yang lebih bernilai.

Percaya bahwa masalah tak akan selesai dengan rutukan. Masalah tak akan selesai dengan berdiam diri, meratap. Masalah ini selesai jika ada usaha untuk menyelesaikannya. Ada usaha untuk mencapai apa yang seharusnya terjadi. Atau ya yang ingin kita capai.

Anggaplah aku tak pernah bisa menaikkan layangan, tak seperti temanku yang telah sukses menerbangkan layangan dengan eloknya sekali coba. Aku menganggap ini tak adil, padahal aku terus berusaha. Maka aku akan marah. Tak bersyukur, lantas menyerah. Namun, dengan sudut pandang lain. Aku akan berusaha lebih keras, mencoba berbagai cara untuk menerbangkan layang-layang. Bertanya sana-sini tentang teknik menaikkan layang-layang. Bagaimana caranya bertahan menari anggun di awan. Dan, berhasil! Itu yang aku dapat. Layanganku indah menggapai awan. Aku bercengkrama dengan anak-anak lain yang membantuku menaikkan layang-layang. Mendapat banyak teman baru. Cemberutku saat layanganku terus mencium tanah berubah menjadi senyum merekah menatap benda itu menjuntai dari benang yang kupegang, sesekali tertawa bersama teman-teman lain. Jika dibandingkan hal ini jauh lebih baik, dibanding kalau aku langsung bisa menaikkan layang-layang. Tak akan seindah ini.

Hm, aku tak pandai beranalogi. Tapi kurang kurang begitulah. Melihat suatu masalah dari sudut pandang lain lantas bersyukur. Karena banyak hal lain yang bisa disyukuri, tanpa harus menyesali apa yang tak dimiliki. Sampai bertemu lagi lembar semu ^^

P.S: aku menulis ulang isi dari judul ini, karena draft yang sebenarnya masih bertengger sebagai draft tak kusentuh. Rasanya lain kawan, hihi.

2 comments:

  1. Ya, memang. Kita berbeda. Syukuri yang kita punya, kita akan merasa kaya. :)

    ReplyDelete

ayo komentar postingan ini, pasti komentar kalian akan sangat berguna buat saya khususnya. komentar ya....